WSATCC, 2020, dan Kubah Berwujud Rumah

Sesaat memasuki tengah malam di hari terakhir 2020—tahun luar biasa yang sarat kehilangan—ada “paket” menarik yang tiba-tiba masuk ke kotak surat elektronik. Pengirimnya adalah Demajors, label produksi dan distribusi musik yang kantornya ada di selatan Jakarta. Mereka mengabarkan bahwa album baru White Shoes and the Couple Company (WSATCC) sudah bisa didengarkan di aplikasi Demajors bagi para pemesan album fisiknya.

Semula, edisi khusus album berwujud CD dilengkapi buku foto itu bakal sampai ke tangan pemesan tak kurang dari 30 Januari 2021. Ternyata, nyaris sebelum tahun ini berakhir, para pemesan awal sudah bisa mendengarnya walau dengan cara streaming, dan bukan di kanal streaming yang populer pula. Tentu ini tak jadi soal besar. Terlebih lagi, album baru ini sudah lama dinanti. Terakhir kalinya mereka melepas album penuh adalah Album Vakansi (2010)—satu dasa warsa lalu.

WSATCC adalah salah satu “veteran indie” yang comeback di tahun pandemi ini. Sebelumnya, Mocca yang juga seangkatan dengan mereka merilis album penuh Day by Day. Raksasa metal Burgerkill melepas minialbum Killchestra berisi enam lagu lama rasa baru. Koil juga barusan melepas First Installment yang isinya dua lagu baru, dan tambahan lagu remake serta cover version. Di kancah pop elektronika, Goodnight Electric mengeluarkan album penuh Mysteria dengan penambahan personil.

Kesempatan mendengarkan album baru WSATCC ini merupakan kado penutup tahun 2020, angka tahun yang dijadikan judul album oleh sextet asal Jakarta ini. Justru, agak janggal rasanya jika album 2020 tapi baru bisa didengar di 2021 walau publik pasti bakal lebih banyak membicarakan album ini di tahun baru itu.

Album ini memang tidak secara eksplisit membicarakan hal spektakuler yang terjadi sepanjang 2020—pengerjaannya sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Tapi apa hendak dikata. Peristiwa yang terjadi sepanjang 2020 begitu istimewa, sangat menyisakan kesan mendalam. Pandemi Covid-19 dan dampak seturutnya membentuk kebiasaan baru, tapi juga menyodorkan rasa kehilangan mendalam.

Tak kurang dari 21.000 orang (versi pemerintah pada 30 Desember sore) di Indonesia meninggal dunia terkait Covid-19, menyisakan duka bagi keluarga dan taulan mereka. Rasa kehilangan itu tak cuma terkait kematian. Banyak orang kehilangan pekerjaan sebagai rantai dampak pandemi ini. Selain itu, orang-orang juga kehilangan kebiasaan yang sebelumnya justru menjadi katalisator kala menghadapi peristiwa emosional.

Selama sekitar 10 bulan, perjumpaan fisik antarmanusia, baik akrab maupun asing, harus dijaraki sedemikian rupa. Wajah-wajah begitu tersamar di balik masker dan mika. Jabat tangan harus dihindari, apalagi pelukan hangat. Hangatnya pelukan dikirimkan dalam bentuk teks. Tukar ekspresi wajah dipisahkan layar kaca. Seolah-olah bertemu, padahal tidak. Keseolah-olahan menjadi lumrah.

Bertahan di rumah dianggap sebagai pilihan paling bijak. Saya yakin ada orang di luar sana yang begitu teguh menjalaninya, walau sebagian lainnya tidak dengan berbagai ragam alasan. Tiba-tiba, rumah tak lagi sekadar tempat pulang. Rumah adalah kubah perlindungan.

Maia, penyanyi dan juri kontes menyanyi, memberi kesaksian perihal rumah. Lewat video yang viral di Youtube, dia bercerita sempat tertular virus Covid-19 setelah bertemu fisik di luar rumah dengan beberapa koleganya. Padahal, sebelumnya, Maia aktif mengolah raga dan mengonsumsi asupan vitamin yang nama-namanya sukar diingat itu. Begitu hasil tes usapnya menunjukkan positif Covid-19, Maia mengisolasi diri di rumah, masuk kubah.

Dia tidak kerepotan mengisolasi diri; ada banyak kamar berfasilitas nyaman di rumahnya. Tinggal pilih. Dia terkoneksi dengan “dunia luar” melalui aneka rupa gawai. Makanan favorit bergizi tinggi tak terputus. Berjemur sambil memandangi kolam renang dan halaman asri jadi aktivitasnya saban pagi. Petugas kesehatan berpelindung diri lengkap rutin mendatangi; memeriksa perkembangan virus, dan menyuntikkan vitamin-vitamin penyokong kebugaran.

Alhasil, kata dia, virus itu cuma bertahan tak lebih dari 24 jam di tubuhnya. Tes usap lanjutan—sampai tiga kali—konsisten menunjukkan hasil negatif. Maia bahagia tak terkira, keluarganya tentu juga lega. Dari pengakuannya, ia mungkin saja tidak dihinggapi virus andaikata tidak kumpul-kumpul di luar rumah. Ini jadi penegas bahwa rumah telah menjadi kubah.

Maka Ketika WSATCC membuka album 2020 dengan lagu berjudul “Rumah”, impresi itu yang langsung melekat walau tidak terekspresikan secara eksplisit. Sari, vokalisnya, menyebutkan rumah(-nya) mungil dengan dekorasi cukup lumayan. Diiringi irama bertempo sedang, dia melanjutkan, “Rumahku tidak besar tetapi kokoh. Ditiup serigala tak mungkin roboh”.

“Serigala” di situ bisa jadi adalah metafora dari ancaman. Di tahun 2020, ancaman itu utamanya berwujud virus. Memang, impresi ini adalah interpretasi bebas, hak istimewa bagi pendengar.

Pemilihan judul 2020 jadi makin menguatkan cerminan atas dokumentasi peristiwa pada tahun itu. Tak semua lagunya bernuansa melankoli seperti lagu “Rumah” itu. Tembang lainnya justru berkilauan layaknya lampu kota. Ada “Hidup Hanya Sekali”, “Sam dan Mul”, serta single unggulan “Irama Cita” yang menggambarkan keping-keping keriaan pada 2020. Jangan lewatkan juga lagu “Folklor” yang begitu menggeliat dengan larik seolah mantra berulang “Berat di beban tidak terasa, setiap saat riuh bekerja”. Sebelas tembang tersaji dalam rupa aneka irama. Ragam instrumen masing-masing terdengar baik. Produksi suara yang prima di sepanjang album ini bisa membuat kita tersenyum dan berucap, “(tahun) 2020 tak melulu buruk”. Album ini setidaknya bisa menemani kita berdansa tipis-tipis di tahun 2021 sembari menunggu giliran mendapat suntikan vaksin, atau minimal ragam vitamin kalau kamu sekaya Maia.(*)

[Foto profil WSATCC di atas adalah karya Fauzi Reza didapat dari Departemen Promosi Demajors]

Kenapa The Breeders Menyenangkan?

“We’re just guitar, bass and drums. It’s an old fashioned outfit. It’s just a matter of getting good songs together and recording them. I don’t know how to do it any other way.”

kim-kelley-deal-chris-glass-608x444

Itu adalah jawaban Kim Deal (sebelah kiri) waktu ditanya Rolling Stone pada Agustus 2014 tentang reuni The Breeders dan hasil yang diharapkan darinya. Reuni band tak akan mudarat bila menghasilkan lagu baru. Itu yang aku percaya. Terserah Anda bila mau menyangkalnya.

Continue reading →

Foo Fighters dan Kabur Tipis-tipis

Piringan hitam album perdana Foo Fighters.
[Sisi satu piringan hitam album self-titled Foo Fighters ini berisi hits “This is a Call”, “I’ll Stick Around”, dan “Big Me” berturut-turut.]

Tanggal 4 Juli yang selama ini aku ingat adalah tentang kemerdekaan AS, film Oliver Stone Born on The Fourth of July, lagu “4th of July” di album Superunknown milik Soundgarden, dan hari lahir teman SMA-ku Julius Royan. Aku melewatkan satu hal: kelahiran album perdana self-titled Foo Fighters di tahun 1995.

Aku tidak peduli dengan peringatan hari kemerdekaan AS, yang pada tahun ini lagi brengsek-brengseknya, persis seperti adegan di film besutan Oliver Stone itu. Aku pun lupa mengucapkan selamat ulang tahun buat Julius Royan, padahal gampang saja disampaikan lewat grup obrolan alumni sekolah. Aku malah mengunggah lagu “4th of July” yang dimainkan ulang Thou, band kelam yang kutemukan belakangan hari.

Di lini masa, ramai akun kolektor piringan hitam menggunggah foto album Foo Fighters bergambar pistol-pistolan itu. Beberapa dari mereka mengimbuhinya dengan cuplikan kenangan mereka pada album itu. Aku berusaha keras mengingat memoriku, setidaknya demi kepentingan konten.

Rupanya susah sekali. Aku tak ingat kapan pertama kali aku membeli kaset yang selongsongnya transparan tapi kasar itu. Yang pasti, aku membelinya ketika aku masih SMP di Kota Sukoharjo, kota kecil sekitar 14 kilometer ke arah selatan Kota Solo di Jawa Tengah. Orangtuaku “menitipkan” aku di keluarga Pak Dhe di sana, dari tahun 1994 sampai 1996, selama jenjang SMP-lah.

Sukoharjo beriklim panas, setidaknya itu yang kurasakan di wilayah perkotaannya. Waktu itu, tempat hiburan satu-satunya di sana adalah bioskop, bukan jaringan XXI. Aku nggak berani nonton di situ; katanya kursinya berkutu, dan banyak preman. Bioskop bagus yang terdekat dari tempat tinggal Pak Dhe ada di daerah Solo Baru, sekali naik bus dari terminal kota. Ke sanalah aku sering menghabiskan jatah jajan bulanan kiriman Bapak.

Toko kaset ada di dekat terminal itu, yang sebetulnya ada di dalam area terminal. Tapi koleksinya kebanyakan album dalam negeri, bajakan pula. Dangdut dan campursari mendominasi. Sepertinya, pembeli terbanyaknya adalah para supir angkot di sana.

Teman sekolahku nyaris tak ada yang pernah jajan rock di sana. Well, istilah “jajan rock” belum dirumuskan Bin Harlan. Dan teman-teman sekolahku nggak terlalu peduli dengan album musik. Mereka, termasuk aku juga, lebih banyak mendengar radio, menelan apa saja yang disuapi para pengarah musik.

Tapi asupan dari radio tidak selalu memuaskanku. Betapa tidak, beragam liputan konser dan ulasan album dari majalah Hai, jarang kudengar wujud lagunya di radio itu. Aku penasaran seperti apa album Mellon Collie and the Infinite Sadness Smashing Pumpkins, atau The Downward Spiral Nine Inch Nails. Sehingga, kaset jadi kebutuhan mendesak juga bagiku, seenggaknya untuk menemani keseharianku yang lebih banyak di dalam kamar. Aku adalah music snob tingkat kota kabupaten.

Di rumah Pak Dhe, kamarku adalah suaka. Kebetulan aku dapat kamar sendiri yang letaknya di pojok belakang rumah. Rumah itu tak pernah sepi. Pak Dhe dan Bu Dhe adalah pengusaha konveksi batik. Bisa jadi salah satu alasan orangtuaku menitipkan di sini adalah agar aku terbiasa dengan etos kehidupan pengusaha. Tujuan itu tak tercapai.

Selain keluarga inti—yang cuma lima orang itu—ada belasan pekerja yang tinggal di sana, semuanya perempuan lajang berentang usia belasan sampai awal dua puluhan. Selain mengurusi pekerjaan konveksi, mbak-mbak ini juga mengerjakan hal-hal domestik. Selain mereka, puluhan penjahit, tukang potong, tukang bikin pola, bekerja di sana saban pagi sampai sore. Belum lagi tukang-tukang lainnya yang menyetor hasil kerjaan dari rumah masing-masing. Suasananya memang selalu riuh. Tapi kamar di pojok belakang itu mengisolasi.

Karena lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, aku sebisa mungkin mencukupi asupan rohani. Ada Alkitab di laci meja, sih. Tapi itu kurang menarik diceritakan.

Seorang paman menghadiahi tape compo kecil bersuara cempreng dari speaker stereo yang bisa dijauhkan. Bagian tape-nya bisa dilepas, seolah-olah jadi pemutar kaset portable—persetan dengan Sony Walkman. Kalau sudah dilepas begitu, aku bisa menyambungkan earphone, sehingga suaranya terdengar lebih bagus—atau kuanggap demikian.

Kaset ibarat lauk-pauk yang bisa kupilih sendiri; beda dengan lagu yang diputarkan radio. Majalah jadi panduan membeli album musik. Majalah yang kuanggap punya ulasan bagus soal musik saat itu adalah Hai. Aku tidak berlangganan, tapi nyaris setiap pekan aku membelinya. Kalau sampul depannya bukan musisi atau band, aku biasanya urung beli, apalagi kalau memajang foto model cowok.

Bel bubaran sekolah di SMP Negeri 2 Sukoharjo itu kurasa lebih merdu setiap Senin, hari ketika Hai edisi terbaru terbit. Pada awal pekan itu, aku memilih berlama-lama berkemas, menunda mengambil sepeda di parkiran, supaya Si Gendut Nugroho dan Si Jangkung Cahyo Catur, bisa jalan pulang duluan. Aku lebih suka menggowes sendiri menuju kios majalah, yang berbeda arah dengan tempat tinggalku, juga berlawanan dengan tujuan Nugroho dan Cahyo.

Kios majalah itu kecil, terletak di tepi jalan besar. Aku harus melewati simpang lima atau proliman, persimpangan terbesar di kota itu yang berlampu merah. Dari proliman, aku berbelok ke kanan, seperti hendak menuju ke sentra jamu Nguter, atau kalau bablas terus bisa sampai Wonogiri. Tapi perjalananku tak sejauh itu. Dari persimpangan, paling-paling aku tinggal mengayuh satu kilometer lagi untuk sampai di kios majalah.

Terkadang di rute inilah aku bersisian dengan Si Ketua Kelas Eko Yuliadi, Si Striker Eko “Komprot”, atau Si Kekar Koesdibyo Tjahjono—anak muda bernama ejaan lama. Aku melambatkan kayuhan, sehingga mereka kesal dan meninggalkanku sendirian. Aku berhenti di kios yang teduh itu. Biasanya, Mas Pedagang menyisakan satu eksemplar buatku yang dipisahkan dari rak pajang.

[Sampul album self-titled Foo Fighters berformat piringan hitam, edisi 2011.]

Uang jajanku pun berkurang, berganti dengan edisi baru majalah, yang segera kumasukkan ke tas tukang pos, yang kutebus dari Si Keling Depi yang tinggal di samping stasiun. Perjalanan pulang dari kios rasanya mendebarkan. Berlebihan kalau kubilang karena tak sabar membuka halaman majalah baru. Lebih sering karena melewati rumah Si Gebetan Ika Retno Palupi, anak SMP sebelah yang kukenal di tempat les. Perasaan makin tak keruan kalau melihat sepedanya sudah terpakir di teras rumahnya. Tapi aku bablas sajalah, mending moco majalah.

Salah satu edisi Hai yang kuingat memuat lirik dan kunci gitar lagu “This is a Call” dari Foo Fighters. Aku lupa edisi itu memajang apa di sampulnya. Itu adalah lagu yang kunanti-nanti, karena penasaran dengan band “penerus” Nirvana. Karena ada kunci gitarnya, kuanggap lagunya nggak kencang-kencang amat, dan bisa diikuti dengan mudah. Tapi bagaimana mau main gitarnya kalau tidak tahu lagunya seperti apa.

Kalau tidak salah ingat, di edisi itu juga, tembang tersebut masuk dalam jajaran tangga lagu Hairock, lagu-lagu rock yang sedang populer pilihan awak redaksi Hai. Tangga lagu Hairock dijadikan program radio yang disiarkan di beberapa radio Nusantara. Stasiun radio di Solo kebagian. Maka pada jadwal yang ditentukan, aku memantengi program itu.

Ternyata lagunya enak, nggak sekencang “Serve the Servant”, dan nggak serumit “Radio Friendly Unit Shifter” dari album In Utero milik Nirvana, yang rilis dua tahun sebelumnya. Bisalah digenjreng pakai gitar akustik yang kubeli dari Si Bengal Tempir seharga Rp 20.000—mungkin dia butuh uang untuk beli Leksotan.

Tapi untuk dengar lagu itu kembali, aku harus menunggu satu minggu lagi di program yang sama. Nyaris mustahil mengharap lagu rock alternatif, apalagi yang masih baru, diputar di program reguler radio di situ. Radio kebanyakan memutar lagu pop dalam negeri, atau ada juga yang ekstrim sekalian berisi lagu-lagu metal. Lagu Pantera, Sepultura, dan Slayer pertama kali kudengar lewat program Raburock di SAS FM. Sia-sia menanti Foo Fighters mengudara di radio, apalagi Pixies, ataupun The Breeders yang sebenarnya sudah lebih populer.

Maka membeli kasetnya adalah opsi yang paling memungkinkan. Itu artinya, aku harus ke Kota Solo sesegera mungkin setelah pulang sekolah, supaya sore sudah sampai lagi di rumah, agar tidak ketahuan Pak Dhe. Aku malas ditanya-tanya habis dari mana. Apalagi, tujuannya “cuma” membeli kaset, kebutuhan konsumtif, jauh dari etos kerja keras dan berhemat gaya wirausaha.

Untuk “pelarian” begini, biasanya aku bermodus minta izin main ke rumahnya Koesdibyo Tjahjono, yang juara kelas itu. Aku pakai sepeda dari rumah, supaya makin meyakinkan tidak pergi jauh-jauh. Sepedanya aku titipkan di sebelah toko kaset bajakan di terminal. Lalu aku naik bus PO Damar Sasongko ke Solo.

Toko kaset tujuanku ada di dekat plaza yang ada toko Matahari dan bioskop Studio 21. Aku tak ingat nama tokonya, maupun nama jalannya. Plaza itu dijarah massa tahun 1998. Ketika album Foo Fighters keluar, harga kaset barat sekitar Rp 12.500; koreksi kalau salah. Sekali jajan, biasanya lebih dari satu album, supaya kaburnya tidak terlalu sia-sia. Lagi-lagi, aku tak ingat beli kaset apa untuk menemani Foo Fighters waktu itu. Mungkin Cracked Rear View dari Hootie and the Blowfish.

Maka koleksi kasetku pun bertambah. Aku jadi makin akrab dengan “This is a Call”, dan bisa memainkannya di gitar murahan itu walau suaranya kasar alias raw, seperti nuansa lagu-lagu di album pertama Foo Fighters itu. Lagu di urutan kedua “I’ll Stick Around” lebih atraktif, sayangnya sukar digitarkan. Lagu ketiga “Big Me” adalah yang paling gampang dimainkan, bahkan bisa diisengi merangkainya dengan lagu “Kamulah Satu-satunya” Dewa 19 yang dirilis dua tahun kemudian.

Foo Fighters mulai bertumbuh di seluruh dunia, termasuk di kamar pengap di Sukoharjo itu. Bertahun-tahun berikutnya mereka makin populer, dan berumur lebih panjang dibandingkan Nirvana.

Foo Fighters pula yang kelak “memaksaku” membuat paspor untuk pertama kalinya karena berencana berkonser di Singapura pada 2012. Konsernya batal akibat Dave Grohl sakit pita suara. Tapi aku jadi ke Singapura bareng Si Tengil Maria, Si Anteng Luhur, dan tiga teman baru lain. Itu lawatan luar negeri pertama kalinya bagiku, dan bukan karena kewajiban pekerjaan.

Aku baru benar-benar menonton konser mereka lima tahun kemudian di negara itu bareng Si Cekatan Diaslily. Rasanya mengharukan meneriakkan “I don’t owe you anything” berulang-ulang pada lagu pembuka “I’ll Stick Around” di National Stadium itu. Foo Fighters sejak dulu selalu berhasil memaksaku pergi jauh, alias kabur tipis-tipis.(*)

Kiprah album self-titled Foo Fighters ini bisa disimak di sini.

Ada Chris Cornell ketika Ospek

soundgarden 0009134404_10

hard headed fuck you all

just add it up to the hot rod death toll

 

Waktu itu aku baru pindah ke Yogyakarta dari Sukoharjo. Ini kesenangan baru terutama dalam urusan jajan kaset. Ketika masih di Sukoharjo, aku harus pergi ke Solo—sekitar 15 kilometer—untuk dapat album-album asyik. Sedangkan di tempat baru ini, ada toko kaset Bulletin di samping Mirota Kampus di daerah Terban.

Di seberang toko kaset itulah aku biasa mencegat colt tiap pulang sekolah menuju rumah. Bisa dibilang, hampir tiap hari aku mampir ke toko itu, sekadar liat-liat saja. Aku baru beli ketika ada uang jajan sisa, dan ada album incaran.

Continue reading →

Numb #5: [Seharusnya] Surat Cinta

Books of Life

Rawabelong, 23 Agustus 2015, hampir pagi.

Dear Adinda,

Surat ini mungkin agak tidak mengenakkan bagimu, juga bagiku. Tapi seperti yang kita yakini dan sepakati bersama, mengetahui ketidakenakkan adalah kenikmatan tersendiri, bukan? Jadi ada baiknya hal ini kuceritakan padamu saja.

Continue reading →